LUTIM, GERBONGNEWS.COM– Hari Ini, Sebuah Momentum Yang Mestinya Menjadi Hari Bahagia Bagi Kabupaten Luwu Timur Yang Telah Menginjak Umur 23 Tahun.
Hari yang seharusnya menyalakan lentera harapan yang lebih besar bagi masa depan kita bersama. Namun, kenyataan pahit justru terpampang jelas di depan mata.
Mata masyarakat yang penuh dengan tatapan berjuta harapan akan kesejahteraan, hari ini harus menyaksikan kenyataan bahwa harapan-harapan itu sirna akibat ulah oknum yang merusak tatanan demi meraup keuntungan pribadi. Ujar Muzammil Jum’at 12 Juni 2026
Terkhusus kepada mereka, para tikus yang duduk manis di balik meja kekuasaan: Ketahuilah bahwa Anda sekalian bukan hanya mengkhianati mandat Sila ke-5 Pancasila, tetapi juga telah berkhianat secara nyata terhadap rakyat Indonesia.
Hari ini, kabupaten tercinta Luwu Timur— daerah yang penuh dengan potensi, daerah yang luhur dengan julukan Bumi Batara Guru—harus terluka.
Hati masyarakatnya telah ternodai oleh maraknya dugaan kasus korupsi yang seakan telah mengakar begitu dalam.
Aspek-aspek dasar yang mestinya menyentuh dan menyuburkan nadi kehidupan masyarakat, justru menjadi gerbong awal yang melukai hati nurani warga Luwu Timur.
“Kasus yang muncul justru bersumber dari sektor pendidikan dan pelayanan kesehatan”.
Dua sektor paling krusial yang sangat dibutuhkan oleh setiap jiwa di Bumi Batara Guru.
Sektor pendidikan yang seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk menumbuhkan dan mempertajam pikiran generasi penerus, kini bertransformasi menjadi ‘ladang basah’ bagi mereka yang mengejar proyek pengadaan seragam gratis.
Sementara di sektor kesehatan, luka masyarakat semakin diperdalam. Anggaran dan program yang seharusnya mempermudah akses pengobatan, justru diduga menjadi bancakan pundi-pundi rupiah
Ironisnya, semua ini terjadi di bawah kepemimpinan seorang Bupati yang mestinya berdiri di garda terdepan untuk mengantisipasi dan mengusir para tikus berdasi tersebut. Namun fakta di lapangan menunjukkan sikap diam dan kelalaian dalam menjalankan fungsi pengawasan tertinggi di Kabupaten Luwu Timur.
Menelisik lebih jauh, oknum-oknum yang diduga melakukan tindakan hina ini justru merupakan orang-orang yang berada di lingkaran terdekatnya.
Sumpah dan janji publik seolah menguap begitu saja. Salah satu bukti nyata yang melukai hati masyarakat di hari jadi ini adalah hilangnya komitmen terkait pengadaan unit ambulans.
“Ambulans yang merupakan kontribusi dari PT Vale dan dijanjikan akan diserahkan secara resmi sebagai hadiah bakti pada perayaan HUT Luwu Timur yang ke-23, justru tidak tampak sama sekali. Tidak ada satu pun unit yang terealisasi untuk melayani rakyat di hari yang bersejarah ini”.
Aktivis kemanusiaan Soe Hok Gie pernah berkata bahwa membiarkan suatu kesalahan adalah bentuk dari kejahatan itu sendiri.
Apabila kasus di sektor pendidikan dan kesehatan ini terus dibiarkan, diredam, dan dinina-bobokan, maka ketidakpastian ini menjadi kado ulang tahun yang paling busuk bagi sejarah 23 tahun berdirinya Luwu Timur.Oleh karena itu, kita harus lantang bersuara.
Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, dan Luwu Timur bukanlah ladang penjarahan bagi para tikus berdasi. Suara rakyat adalah suara tuhan (Vox Populi, Vox Dei).
Jangan biarkan Bumi Batara Guru tenggelam dalam kelalaian kepemimpinan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh






