Aliansi Masyarakat Walmas Menggelar Demonstrasi Menuntut Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Takmau Ditungangi Politik Berlarut – Larut

oleh -146 Dilihat
oleh

Luwu, Gerbongnews.co.id – Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Masyarakat Walmas di Jembatan Salutubu menuntut Kepada Pemerintah agar segera merealisasikan Pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Aliansi Masyarakat Walmas menyatakan, bahwa gerakan demonstrasi hari ini tidak hanya menjadi ekspresi kemarahan sosial atas ketimpangan pembangunan, tetapi juga berubah menjadi peristiwa politik dan kultural yang sarat makna. Ujarnya Minggu, (19/1/26)

Ditambahkan, bajwa kehadiran Datu Luwu di tengah massa aksi menegaskan bahwa tuntutan pemekaran Kabupaten Luwu Tengah menuju Provinsi Luwu Raya bukan sekadar wacana administratif, melainkan perjuangan kolektif yang berakar pada sejarah dan identitas Tana Luwu.

Selain itu, dalam Orasi Haikal selaku Jenderal Lapangan menegaskan, bahwa rakyat Walmas telah terlalu lama berada dalam posisi pinggiran kebijakan.

Ia menyebutkan negara kerap hadir dalam bentuk regulasi, tetapi absen dalam pemenuhan keadilan pembangunan. “Pemekaran ini lahir dari realitas ketimpangan, bukan ambisi elit. Jadi negara harus berhenti melihat Walmas dari jarak peta, tetapi dari penderitaan rakyatnya,” tegasnya.

Selanjutnya, pernyataan Haikal disambut sorak massa yang menilai Pemerintah Daerah selama ini gagal membaca kebutuhan objektif wilayah Walmas. Dan kehadiran Datu Luwu dalam aksi tersebut dinilai sebagai legitimasi kultural terhadap perjuangan pemekaran. Tradisi Tana Luwu, posisi Datu bukan sekadar simbol adat, melainkan representasi nilai persatuan dan keadilan sosial. Tandasnya

Setuasi orasi berlangsung. Tampil Datu Luwu di tengah rakyatnya mengirimkan pesan kuat bahwa perjuangan Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya memiliki dasar historis dan moral yang tidak dapat diabaikan oleh negara. Hal ini sekaligus mematahkan stigma bahwa gerakan pemekaran hanya digerakkan oleh kepentingan politik sesaat.

Selankutnya Haikal menambahkan, bahwa jika negara terus menunda, maka yang dipertaruhkan bukan hanya pembangunan, tetapi kepercayaan rakyat terhadap keadilan negara.

Menutup aksi, massa menyatakan komitmen untuk melanjutkan konsolidasi perjuangan secara berkelanjutan. Dan Haekal Jendral Lapangan memperjelas bahwa gerakan ini tidak akan berhenti pada simbol dan seremoni. “Kami tidak sedang mencari panggung, kami sedang menuntut hak. Tandasnya

Selama Luwu Tengah belum dimekarkan dan Provinsi Luwu Raya masih dianggap wacana, selama itu pula perlawanan rakyat akan terus hidup,” tegasnya Haekal bersama masyarakat.